Baik Hati Sedikit Sama Diri Sendiri

Tulisan ini akan dimulai dengan pengenalan singkat tentang diri penulis (Yha gue sendiri juga sik)

Saya perempuan, lahir di penghujung tahun 1993, makanya kalau ditanya umur di awal-awal tahun, saya suka menyebut angka satu tahun lebih muda dibanding hasil minus tahun saat itu dengan tahun lahir saya.

Saya ini pekerja swasta dengan jumlah gaji yang: kalau saya nunjukkin slip gaji, pasti akan disaranin untuk punya kerjaan sambilan seperti jualan di online shop. Jenjang karir saya di bidang kerja saya sekarang juga kayaknya ga bisa bikin saya jadi calon mentri atau kepala BUMN dalam 30 tahun lagi. Makanya sejak 2015, saya memutuskan untuk bakar jembatan (burn the bridges kalau dalam idiom bahasa Inggris) dan mengganti karir sama sekali.

Keputusan pergantian karir diawali dengan saya yang kuliah lagi dengan jurusan yang sama sekali beda dengan bidang kuliah saya sebelumnya.

(Biar lebih jelas, saya ini pekerjaannya ngajarin anak-anak spesial, dan mau ganti karir di bidang ekonomi aja)

Jadi kalau ditanya, apa tujuan kuliah lagi? Mau ganti karir!!

Selama ini belum ada yang berani protes atau ceramahin saya mengenai keputusan pergantian karir. Sampai salah satu dosen saya di sesi-sesi ngobrol mengetahui tujuan saya kuliah lagi sekarang untuk banting setir, jadilah saya diceramahi sama beliau. Dia berani ceramahin saya, karena justru dia ambil keputusan yang terbalik dengan saya. Bisa dibilang, dia malah mau jadi seperti saya.

Dia bilang,

Apa coba kerennya saya? Ngajarin mahasiswa, udah pada pinter-pinter, masuk sini juga udah pinter, bisa jadi mereka emang udah jadi, saya ga kontribusi apa-apa, mahasiwa juga kalau bukan karena absen ga akan datang. Atau lebih parah lagi, ada saya malah ngehalangin suksesnya mahasiswa.

Saya ga tergetar sih dengar dia bilang itu.

Terus dia lanjut

Kamu tau ga berapa banyak orang yang berterima kasih karena ada kamu? Ga banyak, tapi kamu beneran buat hidup mereka berubah. Berapa banyak orang tua yang jadi lega karena anaknya jadi bisa lebih dikontrol; berapa banyak janda-janda yang kamu ringanin bebannya, karena ga sedikit pasutri yang anaknya spesial, akhirnya salah satu ga kuat dan memilih pergi (hasil pengalaman saya sih memang lebih banyak suaminya yang pergi); berapa banyak anak-anak yang jadi lebih bahagia karena kamu.

Kata-kata beliau cukup membuat saya terenyuh dan mikir, iya juga ya.

Meskipun ga cukup untuk membuat saya mengurungkan niat untuk ga jadi ganti karir sih, karena yang seperti dibilang di awal, saya udah terlanjur bakar jembatan, ga bisa di-undo itu jembatan yang sudah terbakar. Investasi saya sudah besar sekali, harga yang saya bayarkan sudah terlalu mahal, baik dari segi materi maupun non materi. Pada akhirnya juga, dosen saya sepakat dengan saya mengenai regulasi pemerintah yang belum terlalu concern terhadap hal ini juga menjadi alasan saya.

Tapi sesuai judul posting-an ini, berdasar obrolan sama dosen saya tersebut, saya sadar selama ini, mungkin saya terlalu keras sama diri saya sendiri. Menganggap pekerjaan saya sama sekali tidak ada bagus-bagusnya, merasa kontribusi saya tidak terlalu riil kepada masyarakat dalam jumlah besar, menganggap pekerjaan harian saya kurang intelectually stimulating (karena saya ga mungkin mengajarkan aljabar atau metode analisis kepada anak-anak tersebut, paling banter menghitung sampai 50), dan berpikir kalau semua jenis pekerjaan dibuat kasta, maka kasta pekerjaan saya ada di di level kasta waisya.

Bahwa sebenarnya, karena kita ini paling banyak menghabiskan waktu dengan diri kita sendiri, justru kita sendirilah yang harus lihat kebaikan-kebaikan di diri kita. Walaupun sepertinya sedikit, mungkin itu masalah gimana kita melihatnya.

Tabik!

Kelirumologi: Analisis Lirik Lagu Puan Kelana

21 April 2017

Di tanggal segini, seharusnya saya menulis mengenai women empowerment atau pencapaian wanita-wanita hebat di sekitar saya dan juga saya sendiri. Hal tersebut dikarenakan sedang berlangsung perayaan hari Kartini. Kartini yang menjadi simbol untuk kemajuan wanita-wanita Indonesia. Alih-alih saya malah galau gegara mendengar lagu dari Silampukau yang berjudul Puan Kelana yang ada di album Desa, Kota, dan Kenangan. Kata orang, kalau ibu Kartini masih ada, beliau pasti akan kecewa melihat saya sebagai wanita Indonesia sekarang yang galau hanya karena lagu. Mereka salah. Kalau ibu kartini masih ada, beliau akan menjadi wanita tertua di Indonesia….

Tentu Silampukau tidak akan mendapat penghargaan anugrah musik Indonesia berkat album mereka yang satu ini. Bens Leo pun ga akan memberikan pujian pada si band folk yang satu ini. Tapi begitu mendengar lagunya, terutama nadanya yang berusaha happy tapi liriknya desperate, membayangkan ada di posisi Tuan sang kekasih Puan saja, saya tidak berani.

Kau putar sekali lagi Champs-Elysees.
Lidah kita bertaut a la Francais.
Langit sungguh jingga itu sore,
dan kau masih milikku.

Kita tak pernah suka air mata.
Berangkatlah sendiri ke Juanda.
Tiap kali langit meremang jingga,
aku ‘kan merindukanmu.

Ah, kau Puan Kelana,
mengapa musti ke sana?
Jauh-jauh Puan kembara,
sedang dunia punya luka yang sama.

Mari, Puan Kelana,
jangan tinggalkan hamba.
Toh, hujan sama menakjubkannya,
di Paris atau di tiap sudut Surabaya.

Rene Descartes, Moliere, dan Maupassant.
Kau penuhi kepalaku yang kosong;
dan Perancis membuat kita sombong,
saat kau masih milikku.

Kita tetap membenci air mata.
Tiada kabar tiada berita.
Meski senja tak selalu tampak jingga,
aku terus merindukanmu.

Ah, kau Puan Kelana,
mengapa musti ke sana?
Jauh-jauh Puan kembara,
sedang dunia punya luka yang sama.

Mari, Puan Kelana,
jangan tinggalkan hamba.
Toh, anggur sama memabukkannya,
entah Merlot entah Cap Orang Tua .

Aih, Puan Kelana,
mengapa musti ke sana?
Paris pun penuh mara bahaya dan duka nestapa,
seperti Surabaya.

Jadi, saya musti mulai dari mana untuk mendeskripsikan lagu di atas? Paling gampangnya kayaknya dengan mengarang-ngarang cerita tentang si Tuan.

Si Tuan, pemuda paruh baya, yang punya 2 cinta: untuk Puan, sang kekasih; dan untuk Surabaya, kota tempat kelahirannya, tempat dia tumbuh, dan tempat dia meniti karirnya.

Siapa menyangka bahwa Tuan adalah pemuda yang cukup berhasil, dia memiliki pekerjaan yang memberikan pundi-pundi rupiah yang berlimpah, Tuan mulai memenuhi impian-impian masa remajanya dengan daya yang dia punya sekarang, termasuk salah satunya untuk mempersunting Puan, sang pujaan jiwa.

Tuan mempersiapkan diri untuk melamar Puan, dengan latar ruang makan rumah kontrakan, masakan rumah buatan Tuan, dan iringan lagu Champs-Elysees Tuan menyampaikan niatnya. Alih-alih Puan menjawab lamaran Tuan dengan fakta bahwa Puan ingin melanjutkan pendidikannya ke Paris. Kota yang akan memisahkan mereka 12.000 km jauhnya.

Layaknya pasangan yang baik, Tuan ingin mendukung Puan, karena orang bijak berkata bahwa pasangan yang baik akan mendukung pasangannya untuk berkembang, dan dia mencoba mempercayai kata-kata, distance means nothing when someone means a lot. 

Walaupun anak kecil di dalam hatinya merengek meminta Puan tetap tinggal di Surabaya. Karena Surabaya, kota yang mempertemukan mereka; di Surabaya juga mereka pernah menerjang hujan bersama; memang Surabaya tidak melulu indah, tapi toh Tuan dan Puan punya anggur cap orang tua saat penat sedang tiba.

“Sebab dimanapun dunia, Puan, tetap ada luka menganga. Jalanilah luka dengan saya”

Tapi tekat Puan sudah bulat, Puan pun kelana.

 

Tabik,

Mutiara

 

A Phone Call

Jakarta, 1 April 2017

Entah kesamber apa, dan karena gue cek hp gue, gue beli paket nelpon kebanyakan (190 menit), padahal biasanya juga dipake buat nelpon abang Go-Jek atau Uber doang, gue memutuskan menghabiskan malam minggu ini untuk menelepon teman-teman lama gue. Baik dari kantor lama, teman SMA, dan juga teman kuliah.

Mereka semua responnya sama,

“Ada apa Mut/Te? Tumben-tumbenan, random banget”

Yang selalu gue jawab dengan

“Hmm.. beneran ga ada apa-apa sih, nothing big happens. Just to say hi, apa kabar”

Well, I can’t blame them sih. Di usia yang gue dan temen-temen gue dimana kita baru mulai kerja dan meniti karir, dan kita lagi sibuk-sibuknya, nobody’s got time for an old friends, apalagi yang mungkin kita ga ada kepentingan dengan itu orang.

Gue pun ya sebenernya sering banget lupa balesin chatting temen gue, di-chat siang, baru bales besok paginya pas buka hp sebelum mulai kerja, atau kadang bahkan pas weekend. Kalau tiba-tiba ada telpon dan gue lagi ada kerjaan, gue bilang bakalan nelpon lagi nanti, abis gitu lupa buat nelpon lagi. Tapi karena sekarang gue lagi kurang enak badan, dan buku-buku pinjaman dari perpustakaan udah selesai gue baca, dan bosen nonton Homeland karena drama Carrie Mathison dengan teroris ga kelar-kelar, gue pun memutuskan untuk menanyakan kabar teman-teman lama gue.

Selama ini, cara kita tau kabar-kabar dari teman kita kebanyakan dari update-an sosial media mereka, which is fine, tapi ternyata, gue sampai pada realization bahwa update-an itu ga cuma ditujukan kepada gue, it’s like my friends telling the world how they’re doing, dan gue nguping. Entah kenapa tiba-tiba gue pengen sesuatu yang terpersonalisasi. Iklan aja terpersonalisasi, iklan aja relevan sama apa yang diri kita mau dengar.

I want a personalized thing, I want them to tell me they’re fine, I’m fine as well, and I tell them to take care of themselves. Most of the calls only took me 6 minutes, but I’m glad I did it. I feel like catching up with something I’ve been missing.

 

 

Kaki yang Diamputasi

Jakarta, 6 Maret 2017

Lewis-Palmer Valor Christian girls soccer generic

Pagi ini, saya bangun seperti biasa, berlari 45 menit untuk menjaga kebugaran tubuh saya dilanjutkan dengan sarapan seadanya karena saya akan menuju lapangan bola pagi ini. Sepak bola ceria kata teman-teman. Permainan bola yang saya rutin lakukan setiap hari Sabtu bila sedang tidak ada kesibukan dengan klub atau tetek bengek seorang atlet professional lainnya. Namanya sepak bola ceria, tentu energy yang saya gunakan tidak sebanyak kalau saya dibayar untuk bermain. Capek, tinggal minta gantian; malas berlari, tidak ada teriakan pelatih atau rekan di pinggir lapangan yang mengingatkan; dan yang terpenting, saya tidak perlu ngoyo-ngoyo mempertahankan bola atau merebut bola yang berpotensi akan membuat kaki saya terbentur dan terasa sakit. Tapi entah kenapa, walaupun saya bermain dengan ceria, kaki area bawah saya terasa tidak enak siang ini.

 

Saya pemain sepak bola. Salah satu yang terbaik di kelasnya. Sudah 2 tahun terakhir, saya mendapat gelar pemain terbaik di liga sepak bola paling bergengsi di Asia. Terakhir gelar pemain terbaik saya dapatkan dengan catatan gol sebanyak 35 kali sepanjang liga berlangsung. Maka tidak heran kaki saya adalah harta saya yang paling berharga, lebih penting dari apapun, satu-satunya kaki yang saya punya. Saya lebih rela kehilangan harta kekayaan saya ketimbang kehilangan kaki saya. Karena tanpa kaki saya, saya bukan apa-apa. Saya bersyukur setiap hari telah dikaruniai kaki yang lincah, kuat, dan akrab sekali dengan bola. Maka jangan heran kalau saya tidak sungkan memperlakukan kaki saya bak raja. Walaupun saya laki-laki, saya rutin melakukan perawatan kaki: saya mengoleskan pelembab kulit setiap pagi dan sorenya; menata rambut kaki; memakaikan sepatu yang nyaman, agar kaki saya betah saya pakai lama-lama; hingga perawatan scrub dan juga pijat untuk kaki saya; hal yang saya lakukan semata-mata sebagai bentuk rasa terima kasih saya.

 

Kaki saya semakin terasa tidak enak, semakin nyeri, bahkan ada kemerahan dan bengkak pada beberapa area. Kaki saya memang agak sering terasa nyeri beberapa waktu terakhir, tapi kalau menjadi bengkak dan kemerahan, pasti ada hal yang tidak beres. Dan benar saja, kata dokter, terjadi osteosarcoma pada area lutut hingga kaki bawah. Bahkan dokter bilang, ada kemungkinan kaki saya harus diamputasi hingga sepertiganya, dalam rangka menghindari penyebaran sel kanker yang ternyata cukup agresif. Saya punya waktu 5 bulan untuk melihat sejauh mana kanker ini akan menyebar dan kaki saya harus diamputasi; atau sebaliknya, bisa saja sel kanker tersebut dimatikan setelah beberapa sesi terapi. Meskipun kata dokter, akan ada kemungkinan tumbuh lagi jika bagian sumbernya tidak benar-benar dihilangkan. Harapan tersebut sedikit mencerahkan, walaupun saat ini saya dihadapkan pada kenyataan bahwa, saya punya kemungkinan besar akan kehilangan kaki.

 

Saya bingung harus apa, kenapa tiba-tiba kaki saya harus diambil begitu saja. Saya tidak pernah meminta kaki yang lebih baik, saya merasa sangat bersyukur atas kaki yang saya dapatkan. Walaupun tidak setiap saat saya lakukan, saya berusaha untuk menjaga dan menggunakan kaki saya dengan baik. Jauh lebih banyak orang yang malas menggunakan kakinya, banyak orang di luar saya yang menggunakan kakinya hanya dari teras rumah sampai mobilnya; banyak orang yang menaikkan kakinya di meja dan menyuruh pembantunya untuk mengambilkan makanannya alih-alih mengambil dengan kakinya sendiri; banyak orang di luar saya yang berpura-pura tidak punya kaki, dan memelas kasihan orang-orang. Lalu kenapa saya? Saya akan pincang, saya akan sangat kehilangan, dan yang pasti, saya tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi.

 

Kata dokter, saya akan tetap bisa berjalan, hampir seperti normal, dengan bantuan kaki prostetik. Walaupun, untuk akhirnya bisa beraktivitas biasa lagi, saya harus menjalani puluhan sesi fisioterapi, belum lagi kondisi psikologis saya yang akan sangat terpukul. Kata manajer saya, urusan karir bukan masalah, saya bisa tetap berkarir di bidang sepak bola, walaupun bukan menjadi pemain. Saya bisa menjadi pelatih, atau saya bisa menjadi tokoh inspirasi di dunia persepakbolaan dengan tawaran menjadi pembicara dimana-mana. Mereka tidak sadar, yang mereka ucapkan ke saya hanya akan terdengar menjadi satu hal untuk saya: Saya tidak akan menjalani kehidupan yang sama tanpa kaki saya. Saya tetap dapat beraktivitas seperti biasa, saya tetap berkarir di sepak bola, tapi semua tidak akan saya lakukan dengan kaki saya. Kalian sudah tau bukan betapa berartinya kaki buat saya?

 

Di waktu lima bulan ini, saya ingin menghabiskan waktu sebanyak-banyaknya dengan kaki saya, saya ingin menikmati setiap detik bersama kaki saya, saya ingin mewujudkan semua keinginan-keinginan saya untuk melakukan berbagai hal selama kaki saya masih ada. Karena tanpa dia, saya adalah orang yang berbeda. Jadi, di ujung waktu nanti, baik dokter mengatakan kaki saya harus diamputasi atau tidak, saya sudah bisa sedikit lebih ikhlas. Walaupun saya cukup sadar sekarang, nanti-nanti pasti saya akan meminta waktu sedikit lebih lama lagi untuk bisa bersama dengan kaki saya, satu minggu lagi, satu hari lagi, bahkan satu menit lagi.

 

Jika memang saya benar-benar akan kehilangan kaki saya, ada sisi positif yang saya sadari. Saya tidak akan menjadi orang yang akan menyia-nyiakan kaki saya: saya tidak akan memakaikan alas kaki yang tidak nyaman untuk kaki saya karena kaki saya tiba-tiba melebar, dan saya menjadi malas mencari sepatu yang cocok; saya tidak akan membiarkan kaki saya tidak terawat ketika saya sudah memiliki perut buncit, dan kesulitan mencapai kaki saya; atau saya tidak akan menyakiti orang dengan kaki saya, saya tidak akan menendang tong sampah ketika kesal dengan kaki saya, saya tidak akan menyakiti kaki saya dengan tidak sengaja membenturkan kelingking kaki saya ke pinggir pintu atau tembok. Dengan demikian, saya hanya punya kenangan yang baik-baik dengan kaki saya. Meskipun sesekali, pasti saya akan membayangkan, betapa akan lebih bahagianya hidup saya jika saya tetap bersama dengan kaki saya, betapa saya tidak perlu menjadi orang yang berbeda, dan betapa saya tidak perlu bersusah payah untuk beradaptasi setelah kehilangan dia.

 

Sebelum tidur malam ini dan malam-malam selanjutnya, saya tidak pernah berhenti berdoa agar dokter membawa berita baik, dan saya tidak perlu kehilangan kaki saya.

I Know Exactly What Love Looked Like

I know exactly what love looked like:

Love hated the shrimp.

Love didn’t know anything about soccer.

Instead, every time I tried to kiss love, my glasses got in the way.

Love had a terrible pitch control, but made sure you never miss the lyrics inside the song.

Love is a terrible navigator, and a great driver.

Love knows where she’s going, it may just take her two hours longer than she expected.

 

Love is messier now.

Not as simple.

And turns out: Love shits!

But love also cries, and will tell you: You’re doing great.

Over and over again.

 

Maybe love is not ready for you.

Maybe you are not ready for love.

Maybe next time you see love is 5 years after the divorce.

Looks older now, but just as beautiful as you remember.

Maybe love is only there for a year.

Maybe love is there for every firework, every birthday celebration, every hospital visit.

Maybe love stays. Maybe love can’t. Maybe love shouldn’t.

 

When love arrives, says “welcome, make yourself comfortable”

If love leaves, ask him to leave the door open behind him, turn off the music, listen to the quiet, and whisper:

“Thank you for stopping by”

2017 So Far (January)

Jakarta 24 – Januari – 2017

Hello there..

It’s been a while since we talk to each other. How’s everything?

Things are not so delighting to me in this first month of 2017.

Awal 2017 diawali dengan pekerjaan gue yang super membosankan dan gue udah sama sekali ga ada suka-sukanya kerja di sini. Gue sekarang lagi libur kuliah, jadi semakin ga ada dinamikanya lah kehidupan ini. Berangkat naik motor ke stasiun, berpenuh-penuh naik kereta, turun kereta, naik angkot yang sudah nangkring di pinggir stasiun ngebuat jalanan macet, tunggu 5-10 menit, lalu turun di depan kantor, ada di depan computer mengerjakan sesuatu yang gue karang-karang sendiri kadar penting ga pentingnya, pegang pasien sesekali sampai sekitar jam 1 an, terus habis itu ga ada kerjaan sampai jam 4 sore yang biasanya gue habiskan dengan ngobrol sama temen kerja gue atau nonton film. Habis selesai melakukan kegiatan produktif bohongan tersebut, gue kembali ke rumah just to see my mom sit on her wheelchair, talking about same boring crap about how crappy her husband/my dad is and how I should choose a better husband someday supaya ga kayak dia, setiap hari. Gawd.

Yes, my life officially one degree more suck since my mom got sick and haven’t fully recovered (probably never, since it’s degenerative disease).

Gue ga perlu ngeluh, gue tau ada ribuan orang yang hidup jauh lebih menderita gue. Tapi, saying that we can’t be sad just because someone else have it worse, sama dengan saying we can’t be happy just because someone else have it better, dong? Yes, gue berhak ngeluh dan gue berhak mau hidup yang lebih baik.

Saat ini, I’m on way to that. A way that I hope could lead me to a better place someday. Gue berusaha sebisa mungkin IPK gue setinggi-tingginya, tanpa gue curang sama sekali. Gue berusaha kuliah lagi di universitas yang katanya punya jurusan X terbaik se-Indonesia. Gue berusaha bersikap seprofesional mungkin saat ini di tempat kerja. Gue berusaha punya etos kerja yang bagus, gue berusaha selalu baca isu-isu terkini supaya ga katro. Gue berusaha supaya have a better looking. Ya usaha apa aja lah itu supaya lead me to a better place.

Tapi dengan semua itu, gue tetep ga tau sih apakah gue benar-benar akan bisa berada di tempat yang lebih baik. Gue Cuma bisa berharap, 2018 nanti, saat gue lulus, I can finally say, “Thank God!!”, walaupun saat ini, gue ga percaya-percaya banget adanya campur tangan Tuhan di kehidupan gue.

Ya gimana.

Semua sisi kehidupan gue ga ada yang beres. Keluarga gue, karir, pertemanan, hubungan, atau sekedar kehidupan hobi dan leisure gue. I’m not good at anything. Terus yang demikian gue harus berpikir bahwa ini jalan hidup yang Tuhan mau untuk gue jalanin gitu? Isn’t it like saying “God wants you to be miserable, deal with it”, is it?

Gue sih lebih suka berpikir bahwa ini semua adalah salah gue sendiri, dan gue satu-satunya orang yang bisa ngerubah itu.

Tapi, gue harus tetap optimis. Gue harus tetap berbohong sama diri gue bahwa my life will actually be better. Paling enggak itu yang dibilang di buku Born Liar : Why We Can’t Live Without Deceit (Pengarang Ian Leslie). Di buku tersebut dibilang bahwa manusia perlu berbohong pada dirinya sendiri. Kita menciptakan ilusi bahwa we can finally find the one dan tetap menikah despite the fact bahwa angka perceraian selalu meningkat di Indonesia setiap tahunnya, bahkan data terbaru dari kementrian agama angka perceraian di Indonesia meningkat sampai 16-20 persen (link); berilusi kalau kuliah semakin tinggi akan dapat kerja yang lebih baik; berilusi kalau our next job would be better; berilusi bahwa Indonesia akan masuk piala dunia suatu hari;  Yes, we need to lie to ourselves.

Ada ga orang-orang yang realistis tidak hidup dengan ilusi-ilusi tersebut? Ada! Mereka punya penilaian akurat terhadap kemampuan mereka, masa depan mereka, terhadap kendali mereka atas hidup. Di buku ini dibilang, mereka adalah orang-orang yang clinically depressed.

And yes, at the end of the day, gue masih masih terus mau berilusi.

 

Kelirumologi: Kenapa (Buat Gue) Cari Kerja Susah

Ratusan tombol ‘lamar sekarang’ sudah di-klik; belasan tes logika dan juga interview; uang ongkos mulai dari naik kereta, ojek, sampai taksi yang kalua dihitung jumlahnya mungkin lumayan juga; belum lagi ‘ongkos’ tenaga, waktu, dan emotional cost. Nyari kerja is one of the most depressing time, and kind of heart breaking… Well, mungkin ada yang ngerasa mudah-mudah aja pas nyari kerjaTapi, buat gue begitu rasanya.

Gue bukan pengangguran sih, kalau dilihat dari bungkusnya, gue malah cukup sibuk jadi orang. Gue kerja penuh waktu pada jam kerja regular (8.00-16.00) dan dilanjutkan kuliah pada malam harinya, dari pukul 19.00 – 21.30. Di weekdays, rata-rata, gue keluar rumah pukul 7.00, sampai rumah sekitar jam 22.00 s.d 22.30. Akhir pekan ga jarang diisi dengan kegiatan tambahan kuliah (semacam asistensi, atau kuliah pengganti). Tapi, karena satu dan lain hal, gue berniat untuk keluar dari tempat kerja gue sekarang. Tapi ya cuy, nyari kerja, apalagi untuk orang sambil kuliah kayak gue ini, susahnya bukan main.

Eh.

Jadi, gue nyalahin gue yang sambil kuliah sebagai penghambat gue dapet kerjaan yang lebih baik?

1eugct

“Temen loe ada Mut yang bisa dapat kerjaan baru dengan posisi yang prestisius” – Inner me (selanjutnya tiap kalimat dengan awalan tanda petik dan huruf cetak miring, adalah omongan dari inner-brutally-mean-but-honest-me)

Iya juga, sih.

“iya, emang”

Terus kenapa dong gue susah dapat kerjaan baru? Apa karena diploma gue ga relevan dengan pekerjaan yang gue lamar sekarang.

“Ya bisa sih, cuy”

Iya iya, bisa jadi.

“Tapi, loe kan udah dipanggil interview. Berarti sudah lolos berkas kan. Harusnya udah ga ada masalah dengan profil loe”

 Betul. Tapi menurut gue, HR juga kadang ga baca bener-bener aplikasi orang. They don’t have time to do that. Jadi, mereka Cuma liat pendidikan terakhir gue, IP gue, terus panggil deh.

“ ‘Tapi menurut gue’, you’d like to think of that. Doesn’t mean it’s true.”

“Stop blaming external factor, Mut. Please deh”

Excuse me?!

“Oke oke, daripada kita berdebat terus, ga akan ada yang menang juga. Karena kita ini sama-sama keluar dari pabrik yang sama, si Mutiara ini, mendingan kita brainstorming: penyebab kenapa cari kerja susah.”

Baik. Jika kita ga juga-juga mendapatkan pekerjaan di tempat baru, dan hal tersebut dianggap mengecewakan, siapa yang salah? Jawaban atas pertanyaan ini bisa sangat banyak.

  1. Pemerintah tidak serius dalam menangani masalah pengangguran di Indonesia.
  2. Departemen kesehatan masih dimonopoli dokter sebagai pembuat regulasi, yang menyulitkan kita, sebagai tenaga medis non-dokter ini bisa maju, baik dari segi pendidikan (jenjang pendidikan tenaga medis non-dokter masih kebanyakan diploma), dan juga profesi (para tenaga medis non-dokter harus berada di bawah naungan dokter kalau bekerja di rumah sakit. Kasarnya, pelaksana doang), hal ini tentu akhirnya akan berujung ke soal potensi penghasilan yang bisa kita dapat. Karena kita menyadari hal tersebut di tahun pertama kita kerja setelah lulus diploma dulu, kita memutuskan ganti karir, dan ambil kuliah S1 yang bersebrangan sama sekali.
  3. Perusahaan besar, hanya melirik para fresh graduate dengan pengalaman organisasi yang cemerlang. Padahal kita kan kerja. Mana sempat ikut organisasi.
  4. Kampus dan para dosen yang kurang bisa memancing kita supaya develop dengan maksimal baik dari segi soft skill maupun hard-skill
  5. Orang tua kita yang gagal menciptakan lingkungan rumah yang kondusif, yang penuh dengan diskusi yang membangun, masa kecil dan remaja yang bahagia, yang akhirnya berpengaruh ke kita setelah dewasa.
  6. Orang tua yang karirnya biasa aja, yang ga bisa ngasih akses atau relasi yang banyak ke kita.
  7. Momen yang tidak tepat untuk mencari kerja (belum banyak pegawai resign)
  8. Tuhan dan nasib baik yang berpihak kepada pencari kerja lain – karena gue jarang solat sejak kerja. (Though I don’t actually believe this idea, since it’s easier for me to admit that I’m simply sucks rather than my own creator hates me)

Apa lagi ya?

“ANJRIIITTTTT!!!”

Lho, kenapa?

“NYALAHIN PIHAK LUAR MELULU!!”

Gini maksudnya….

“&*^&%$%!!!!”

“Stop right there, and let me tell you something”

“Faktor eksternal akan selalu ada, dan gue, elo (ya gue dan elo di tulisan ini kan satu orang, si Muti Muti ini), ga akan pernah bisa mengelak. Jangankan kita, Jokowi aja ga habis dari serangan-serangan dari luar. Even lo udah jadi CNN heroes pun, there’s always a threat. But that’s not how it works lah, ada factor yang bisa lo kendaliin. Faktor internal, yaitu, diri lo sendiri. Memang factor latar belakang sedikit banyak akan berpengaruh, tapi sebagai orang dewasa, kita sepenuhnya bisa punya kendali outcome-nya terhadap kita. Buktinya? Oprah Winfrey, yang pas remajanya dia sexually abused sama orang dekat, but she had that turning point time and became richest women in the world pada tahun 2012. Di lain sisi, ada perempuan yang lanjut melakoni pekerjaan prostitusi.”

*ngedengerin*

“Itu contoh ekstrem sih, tapi intinya adalah, factor eksternal ga bertanggung jawab atas who you are, you are. Oiya, satu lagi, pernah dengar soal Dunning-Kruger Effect ga?”

Ya tentu gue tau. Basically, kita kan orang yang sama.

“Iya sih. But let me remind you of that. Dunning-kruger effect adalah bias penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Semacam, politikus ga berpengalaman yang punya opini begitu menggebu-gebu soal permasalahan global; atau self-proclaimed stock market expert yang kehilangan uang di sana sini; atau artis yang ngerasa kehidupannya penting banget di Instagram. Dunning-kruger effect adalah fenomena yang membuat seseorang yang unskilled meng-overestimate kemampuannya. The Ignorant Mind. Menurut Dunning, si ignorant mind ini bukannya kosong ga berisi, tapi lebih kepada berisi informasi yang salah. Relevansinya dengan soal cari-cari kerja ini mungkin memang kita belum secukup baik itu untuk pekerjaan-pekerjaan yang dilamar. Pernah kerja di lingkungan klinik, dan ketemu orang baru setiap hari, kita ngerasa we’re good at dealing with people or making a first impression; atau kita mikir kita bisa kerja di lingkungan dengan pace yang cepat dan dinamis; dan sebagainya”

“It could be one of the causes… or not. But the important thing is, ya kita mesti harus terus improve ourselves, mau itu dari cara ngomong kek, sikap, konten pembicaraan, sama isi kepala loe, atau faktor-faktor lain yang banyak dibahas di setiap website yang bisa lo temukan dengan mengetik keyword “Why didn’t I land the job?” di Google”

Baik-baik. Alternatif lainnya, ada?     

“ada”

Waaaaaaaah.. apa?

“Change nothing and continue to have your heart broken”