Kelirumologi: Analisis Lirik Lagu Puan Kelana

21 April 2017

Di tanggal segini, seharusnya saya menulis mengenai women empowerment atau pencapaian wanita-wanita hebat di sekitar saya dan juga saya sendiri. Hal tersebut dikarenakan sedang berlangsung perayaan hari Kartini. Kartini yang menjadi simbol untuk kemajuan wanita-wanita Indonesia. Alih-alih saya malah galau gegara mendengar lagu dari Silampukau yang berjudul Puan Kelana yang ada di album Desa, Kota, dan Kenangan. Kata orang, kalau ibu Kartini masih ada, beliau pasti akan kecewa melihat saya sebagai wanita Indonesia sekarang yang galau hanya karena lagu. Mereka salah. Kalau ibu kartini masih ada, beliau akan menjadi wanita tertua di Indonesia….

Tentu Silampukau tidak akan mendapat penghargaan anugrah musik Indonesia berkat album mereka yang satu ini. Bens Leo pun ga akan memberikan pujian pada si band folk yang satu ini. Tapi begitu mendengar lagunya, terutama nadanya yang berusaha happy tapi liriknya desperate, membayangkan ada di posisi Tuan sang kekasih Puan saja, saya tidak berani.

Kau putar sekali lagi Champs-Elysees.
Lidah kita bertaut a la Francais.
Langit sungguh jingga itu sore,
dan kau masih milikku.

Kita tak pernah suka air mata.
Berangkatlah sendiri ke Juanda.
Tiap kali langit meremang jingga,
aku ‘kan merindukanmu.

Ah, kau Puan Kelana,
mengapa musti ke sana?
Jauh-jauh Puan kembara,
sedang dunia punya luka yang sama.

Mari, Puan Kelana,
jangan tinggalkan hamba.
Toh, hujan sama menakjubkannya,
di Paris atau di tiap sudut Surabaya.

Rene Descartes, Moliere, dan Maupassant.
Kau penuhi kepalaku yang kosong;
dan Perancis membuat kita sombong,
saat kau masih milikku.

Kita tetap membenci air mata.
Tiada kabar tiada berita.
Meski senja tak selalu tampak jingga,
aku terus merindukanmu.

Ah, kau Puan Kelana,
mengapa musti ke sana?
Jauh-jauh Puan kembara,
sedang dunia punya luka yang sama.

Mari, Puan Kelana,
jangan tinggalkan hamba.
Toh, anggur sama memabukkannya,
entah Merlot entah Cap Orang Tua .

Aih, Puan Kelana,
mengapa musti ke sana?
Paris pun penuh mara bahaya dan duka nestapa,
seperti Surabaya.

Jadi, saya musti mulai dari mana untuk mendeskripsikan lagu di atas? Paling gampangnya kayaknya dengan mengarang-ngarang cerita tentang si Tuan.

Si Tuan, pemuda paruh baya, yang punya 2 cinta: untuk Puan, sang kekasih; dan untuk Surabaya, kota tempat kelahirannya, tempat dia tumbuh, dan tempat dia meniti karirnya.

Siapa menyangka bahwa Tuan adalah pemuda yang cukup berhasil, dia memiliki pekerjaan yang memberikan pundi-pundi rupiah yang berlimpah, Tuan mulai memenuhi impian-impian masa remajanya dengan daya yang dia punya sekarang, termasuk salah satunya untuk mempersunting Puan, sang pujaan jiwa.

Tuan mempersiapkan diri untuk melamar Puan, dengan latar ruang makan rumah kontrakan, masakan rumah buatan Tuan, dan iringan lagu Champs-Elysees Tuan menyampaikan niatnya. Alih-alih Puan menjawab lamaran Tuan dengan fakta bahwa Puan ingin melanjutkan pendidikannya ke Paris. Kota yang akan memisahkan mereka 12.000 km jauhnya.

Layaknya pasangan yang baik, Tuan ingin mendukung Puan, karena orang bijak berkata bahwa pasangan yang baik akan mendukung pasangannya untuk berkembang, dan dia mencoba mempercayai kata-kata, distance means nothing when someone means a lot. 

Walaupun anak kecil di dalam hatinya merengek meminta Puan tetap tinggal di Surabaya. Karena Surabaya, kota yang mempertemukan mereka; di Surabaya juga mereka pernah menerjang hujan bersama; memang Surabaya tidak melulu indah, tapi toh Tuan dan Puan punya anggur cap orang tua saat penat sedang tiba.

“Sebab dimanapun dunia, Puan, tetap ada luka menganga. Jalanilah luka dengan saya”

Tapi tekat Puan sudah bulat, Puan pun kelana.

 

Tabik,

Mutiara

 

Advertisements

I Know Exactly What Love Looked Like

I know exactly what love looked like:

Love hated the shrimp.

Love didn’t know anything about soccer.

Instead, every time I tried to kiss love, my glasses got in the way.

Love had a terrible pitch control, but made sure you never miss the lyrics inside the song.

Love is a terrible navigator, and a great driver.

Love knows where she’s going, it may just take her two hours longer than she expected.

 

Love is messier now.

Not as simple.

And turns out: Love shits!

But love also cries, and will tell you: You’re doing great.

Over and over again.

 

Maybe love is not ready for you.

Maybe you are not ready for love.

Maybe next time you see love is 5 years after the divorce.

Looks older now, but just as beautiful as you remember.

Maybe love is only there for a year.

Maybe love is there for every firework, every birthday celebration, every hospital visit.

Maybe love stays. Maybe love can’t. Maybe love shouldn’t.

 

When love arrives, says “welcome, make yourself comfortable”

If love leaves, ask him to leave the door open behind him, turn off the music, listen to the quiet, and whisper:

“Thank you for stopping by”

Kelirumologi: Kenapa (Buat Gue) Cari Kerja Susah

Ratusan tombol ‘lamar sekarang’ sudah di-klik; belasan tes logika dan juga interview; uang ongkos mulai dari naik kereta, ojek, sampai taksi yang kalua dihitung jumlahnya mungkin lumayan juga; belum lagi ‘ongkos’ tenaga, waktu, dan emotional cost. Nyari kerja is one of the most depressing time, and kind of heart breaking… Well, mungkin ada yang ngerasa mudah-mudah aja pas nyari kerjaTapi, buat gue begitu rasanya.

Gue bukan pengangguran sih, kalau dilihat dari bungkusnya, gue malah cukup sibuk jadi orang. Gue kerja penuh waktu pada jam kerja regular (8.00-16.00) dan dilanjutkan kuliah pada malam harinya, dari pukul 19.00 – 21.30. Di weekdays, rata-rata, gue keluar rumah pukul 7.00, sampai rumah sekitar jam 22.00 s.d 22.30. Akhir pekan ga jarang diisi dengan kegiatan tambahan kuliah (semacam asistensi, atau kuliah pengganti). Tapi, karena satu dan lain hal, gue berniat untuk keluar dari tempat kerja gue sekarang. Tapi ya cuy, nyari kerja, apalagi untuk orang sambil kuliah kayak gue ini, susahnya bukan main.

Eh.

Jadi, gue nyalahin gue yang sambil kuliah sebagai penghambat gue dapet kerjaan yang lebih baik?

1eugct

“Temen loe ada Mut yang bisa dapat kerjaan baru dengan posisi yang prestisius” – Inner me (selanjutnya tiap kalimat dengan awalan tanda petik dan huruf cetak miring, adalah omongan dari inner-brutally-mean-but-honest-me)

Iya juga, sih.

“iya, emang”

Terus kenapa dong gue susah dapat kerjaan baru? Apa karena diploma gue ga relevan dengan pekerjaan yang gue lamar sekarang.

“Ya bisa sih, cuy”

Iya iya, bisa jadi.

“Tapi, loe kan udah dipanggil interview. Berarti sudah lolos berkas kan. Harusnya udah ga ada masalah dengan profil loe”

 Betul. Tapi menurut gue, HR juga kadang ga baca bener-bener aplikasi orang. They don’t have time to do that. Jadi, mereka Cuma liat pendidikan terakhir gue, IP gue, terus panggil deh.

“ ‘Tapi menurut gue’, you’d like to think of that. Doesn’t mean it’s true.”

“Stop blaming external factor, Mut. Please deh”

Excuse me?!

“Oke oke, daripada kita berdebat terus, ga akan ada yang menang juga. Karena kita ini sama-sama keluar dari pabrik yang sama, si Mutiara ini, mendingan kita brainstorming: penyebab kenapa cari kerja susah.”

Baik. Jika kita ga juga-juga mendapatkan pekerjaan di tempat baru, dan hal tersebut dianggap mengecewakan, siapa yang salah? Jawaban atas pertanyaan ini bisa sangat banyak.

  1. Pemerintah tidak serius dalam menangani masalah pengangguran di Indonesia.
  2. Departemen kesehatan masih dimonopoli dokter sebagai pembuat regulasi, yang menyulitkan kita, sebagai tenaga medis non-dokter ini bisa maju, baik dari segi pendidikan (jenjang pendidikan tenaga medis non-dokter masih kebanyakan diploma), dan juga profesi (para tenaga medis non-dokter harus berada di bawah naungan dokter kalau bekerja di rumah sakit. Kasarnya, pelaksana doang), hal ini tentu akhirnya akan berujung ke soal potensi penghasilan yang bisa kita dapat. Karena kita menyadari hal tersebut di tahun pertama kita kerja setelah lulus diploma dulu, kita memutuskan ganti karir, dan ambil kuliah S1 yang bersebrangan sama sekali.
  3. Perusahaan besar, hanya melirik para fresh graduate dengan pengalaman organisasi yang cemerlang. Padahal kita kan kerja. Mana sempat ikut organisasi.
  4. Kampus dan para dosen yang kurang bisa memancing kita supaya develop dengan maksimal baik dari segi soft skill maupun hard-skill
  5. Orang tua kita yang gagal menciptakan lingkungan rumah yang kondusif, yang penuh dengan diskusi yang membangun, masa kecil dan remaja yang bahagia, yang akhirnya berpengaruh ke kita setelah dewasa.
  6. Orang tua yang karirnya biasa aja, yang ga bisa ngasih akses atau relasi yang banyak ke kita.
  7. Momen yang tidak tepat untuk mencari kerja (belum banyak pegawai resign)
  8. Tuhan dan nasib baik yang berpihak kepada pencari kerja lain – karena gue jarang solat sejak kerja. (Though I don’t actually believe this idea, since it’s easier for me to admit that I’m simply sucks rather than my own creator hates me)

Apa lagi ya?

“ANJRIIITTTTT!!!”

Lho, kenapa?

“NYALAHIN PIHAK LUAR MELULU!!”

Gini maksudnya….

“&*^&%$%!!!!”

“Stop right there, and let me tell you something”

“Faktor eksternal akan selalu ada, dan gue, elo (ya gue dan elo di tulisan ini kan satu orang, si Muti Muti ini), ga akan pernah bisa mengelak. Jangankan kita, Jokowi aja ga habis dari serangan-serangan dari luar. Even lo udah jadi CNN heroes pun, there’s always a threat. But that’s not how it works lah, ada factor yang bisa lo kendaliin. Faktor internal, yaitu, diri lo sendiri. Memang factor latar belakang sedikit banyak akan berpengaruh, tapi sebagai orang dewasa, kita sepenuhnya bisa punya kendali outcome-nya terhadap kita. Buktinya? Oprah Winfrey, yang pas remajanya dia sexually abused sama orang dekat, but she had that turning point time and became richest women in the world pada tahun 2012. Di lain sisi, ada perempuan yang lanjut melakoni pekerjaan prostitusi.”

*ngedengerin*

“Itu contoh ekstrem sih, tapi intinya adalah, factor eksternal ga bertanggung jawab atas who you are, you are. Oiya, satu lagi, pernah dengar soal Dunning-Kruger Effect ga?”

Ya tentu gue tau. Basically, kita kan orang yang sama.

“Iya sih. But let me remind you of that. Dunning-kruger effect adalah bias penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri. Semacam, politikus ga berpengalaman yang punya opini begitu menggebu-gebu soal permasalahan global; atau self-proclaimed stock market expert yang kehilangan uang di sana sini; atau artis yang ngerasa kehidupannya penting banget di Instagram. Dunning-kruger effect adalah fenomena yang membuat seseorang yang unskilled meng-overestimate kemampuannya. The Ignorant Mind. Menurut Dunning, si ignorant mind ini bukannya kosong ga berisi, tapi lebih kepada berisi informasi yang salah. Relevansinya dengan soal cari-cari kerja ini mungkin memang kita belum secukup baik itu untuk pekerjaan-pekerjaan yang dilamar. Pernah kerja di lingkungan klinik, dan ketemu orang baru setiap hari, kita ngerasa we’re good at dealing with people or making a first impression; atau kita mikir kita bisa kerja di lingkungan dengan pace yang cepat dan dinamis; dan sebagainya”

“It could be one of the causes… or not. But the important thing is, ya kita mesti harus terus improve ourselves, mau itu dari cara ngomong kek, sikap, konten pembicaraan, sama isi kepala loe, atau faktor-faktor lain yang banyak dibahas di setiap website yang bisa lo temukan dengan mengetik keyword “Why didn’t I land the job?” di Google”

Baik-baik. Alternatif lainnya, ada?     

“ada”

Waaaaaaaah.. apa?

“Change nothing and continue to have your heart broken”

Relax, We’re Not Expiring

12 December 2016

19 days left in 2016, means that I’m going to be 24-year-old next year !! (though it’s not gonna be until the end of 2017)

Several weeks before turning 23, I was seriously anxious and a little depressed because I feel I hadn’t done anything significant in my life.

When I was a teenager, just like most of the Indonesian teenage girl in her 19’s who would enter her 20’s, I made plans of things I must do before entering 25. Including  continuing graduate study abroad, get married, or if I’m lucky enough, both.

But right now and for the next 2 years, I don’t see those dreams nowhere near to be achieved. And apparently, many of my friend had done what I planned earlier. Some of them received scholarship, several found their significant other, got married, and few with baby on the way.

I know those are other people’s life, but I couldn’t say it doesn’t affect me. Growing up in a country where marriage is a cultural default, I couldn’t stop worrying my failure of realizing my dreams. I kept looking at the ‘normal’ lives of Indonesian women that seems a cut above me. I don’t possibly start my master’s program, let alone get married. I felt like I was left behind, a total failure whose expiration date is approaching. And I ended up harming my self psychologically.

At some point in that unstable emotionally period, I looked back at my university year. When I was in college, I would kill to be financially independent, it all started when I found out how hard it was to ask my parent for money every month.

In my situation, getting married or pursuing a master’s degree immediately after graduation wouldn’t help me to become financially independent. This made me realize, there’s reason for everyone’s decision, and what other perceive about their decision, doesn’t matter. Everyone has a different background, and it’s only normal if we venture into different path. (and it reminds me of one of my high school friend who decided to get married young and have a baby on the way whose father just passed away after she got married).

After my big brother who is 3 years older than me got married this year, my cousin who is only one year older than me standing on a ‘who-would-get-married-next’ queue line, and I know, it’s gonna be me who is gonna be ‘attacked’ by old relatives with questions soon.

It doesn’t matter, they have the right to ask.

On the other hand, I have the right to not answer it.

It’s my life, my own portion and version of being happy.

Today, as a 23-year-old, I feel blessed to be independent and productive -though I still live with my parents, but I pay half the bill, and I have extended night clock. lol-. Not every Indonesian women has the privilege to taste the life I live. Though it doesn’t mean I can stay chill and live a mediocre life, but it’s totally okay to not feel okay once in a while, as long as I’m not drowned in bitterness way too long. I’m lucky enough to this much time so I can understand myself better, having a conversation with my self (according to this) and cherish what ever life throws at my face.


I write this on my blog as a reminder for my future self if I ever have one of those mental breakdown in the future (I’m sure somewhere in my middle or late 20’s).

With love, 23-year-1-month-5-day-old you.

Kelirumologi: Analisis Pengaruh Perkembangan Oral Motor Terhadap Tingkat Kesopanan Lu-Kamu-Anda di Jakarta

Jakarta, 5 Desember 2016

Di Jakarta ini, ada banyak kata yang digunakan orang sebagai kata ganti orang kedua. Mulai dari Lu ; Kamu ; Ente ; Anda ; Dirimu ; dan sebagainya. Namun, yang paling sering digunakan orang dalam kegiatan sehari-harinya, baik untuk berbincang dengan teman atau kolega, berbicara dengan klien atau berkonsultasi dengan dokter, atau berkomunikasi via e-mail bisanya adalah : lu, kamu, dan anda.

Di antara tiga pilihan kata ganti orang kedua yang sudah saya sebutkan di atas, terdapat derajat kesopanan yang mempengaruhi seseorang ketika akan menggunakan kata-kata tersebut. Padahal di bahasa Indonesia, tidak ada tingkatan kesopanan penggunaan bahasa, tidak seperti bahasa Jawa yang memiliki ngoko, krama, dan krama inggil sebagai tingkatan bahasa yang didasari atas pembagian masyarakat di Jawa yang terdiri dari priayi dan wong cilik.

uncle-sam

Dengan definisi yang sama-sama ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Lalu apa yang mendasari pembedaan penggunaan lu, kamu, dan anda di Jakarta?

Jawaban seperti sudah dari sananya atau sudah social construct-nya yang sudah seperti itu tentu bisa menjadi alternatif. Tapi teori big-bang tidak akan muncul karena ‘Bumi ya sudah memang begitu adanya’.

Maka dari itu, saya menulis ini bukan untuk bertanya, tapi justru saya mau propose teori saya apa yang memengaruhi tingkat kesopanan lu, kamu, dan anda ditinjau dari kinerja oral motor terhadap penciptaan kata lu, kamu, anda.

Oral Motor

Kemampuan oral motor didefinisikan sebagai pergerakan dari otot wajah (bibir dan rahang) dengan oral area (lidah dan soft palate) yang berpengaruh terhadap wicara (Kumin, L. 2002). Kemampuan oral motor meliputi:

  • Tonus otot (kekenyalan otot)
  • Kekuatan otot
  • Range of motion (rentang gerak, kayak orang lagi salah bantal, rentang gerak sendi di area lehernya jadi berkurang)
  • Kecepatan
  • Koordinasi
  • Disosiasi (kemampuan melakukan pergerakan komponen oral secara independen)

Perkembangan Wicara

Syllable Shapes 

Syllable shapes adalah susunan huruf vokal (V) dan konsonan (C) bersama untuk membentuk kata. Syllable shapes ini terdiri dari beberapa tahapan, misalnya :

  • Simple : V-V (uh-oh/oo) ;  C-V (No ; Me; Lu) ; V-C (Umm)
  • Harder : CVC (Dan, dsb) ; VCV (Ada, dsb) ; CVCV (Kamu) ;  CVCVCV ; VCCV

Speech Sound

Produksi huruf-huruf atau suara-suara juga berkembang secara bertahap, hal tersebut dikarenakan adanya gerakan-gerakan tertentu yang harus dilakukan dalam memproduksi huruf/suara tertentu. Misalnya, huruf ‘U’ ada gerakan bibir sedikit monyong ; atau ‘L’ harus ada gerakan lidah ke atas langit-langit mulut. Tahapan perkembangan pembentukan huruf-huruf ini biasanya :

  • tingkat 1 : huruf-huruf vokal ; p ; m ; h ; n ; w ; b ; t ; d
  • tingkat 2 : k ; g ; v ; f ; ng ; y ; c
  • tingkat 3 : r ; l ; j ; s ; z ; x ;

Pengaruh Perkembangan Wicara

Dari sedikit teori yang saya bahas di atas bisa kita lakukan analisis seberapa sulit pengucapan ‘Lu’, ‘Kamu’, dan ‘Anda’

Lu

Di kata ‘Lu’, kata terdiri dari CV, yaitu silabel paling mudah, kata ini juga diakhiri dengan huruf vokal (U) yang memudahkan pembicara dalam pengucapan. Walaupun diawali dengan huruf ‘L’ yang sebenarnya sulit, tapi huruf L bisa disamarkan oleh anak-anak dengan sedikit-sedikit cadel.

Kamu

Kata kamu sudah memasuki tahapan silabel yang agak lebih sulit, yaitu CVCV. Kata ‘kamu’ juga terdiri dari ‘Ka’ yang diproduksi dengan gerakan pangkal lidah ke atas untuk ‘k..’ dan mulut terbuka untuk ‘a’, dilanjutkan dengan bibir tertutup lalu menguncup (atau monyong…) dengan cepat untuk memproduksi ‘Mu’. Gerakan ini cukup mudah karena tiap kata diakhiri dengan huruf vokal.

Anda

Kata ‘Anda’ sudah memasuki silabel yang sulit, yaitu VCCV. Terdiri dari suku kata ‘An’, yang diaawali dengan mulut terbuka membentuk ‘Aaa’ dan diakhiri dengan ‘N’ yang memerlukan gerakan lidah ke atas, setelah itu dilanjutkan dengan hentakan lidah ke langit-langit untuk membentuk ‘Da’.

Kesimpulan

Jadi, dari hasil analisa ini dapat disimpulkan bahwa, semakin sulit pengucapan kata ganti orang ketiga, maka semakin tinggi derajat kesopanan kata ganti tersebut.

Tentu untuk membuktikan hipotesa ini benar atau tidaknya perlu dilakukan muscle examination dan pemeriksaan apakah memang ada peningkatan asam laktat yang berbeda pada otot-otot di area oral yang mengindikasikan adanya kelalahan otot karena beban kerja yang berbeda untuk memproduksi kata ganti tertentu.

Tabik!

What (Actually) Happen When I Did Solo Traveling

After being all by myself for 5 days in a city I’ve never been, I transformed mentally, but doesn’t mean I’m no longer my old-self.

5 days are not long time to be away, but for a person that isn’t allowed to be out after 9 pm by her parents and no chance to move out unless she gets married, 5 days are enough. After weeks of reading about the holiday destination and solo traveling tips (and lesson) by women travel blogger, I decided to go.

The journey started with my boyfriend taking me to the airport, I was so excited and barely worried about anything that i was up to in Bali, all I thought about was all the free time I’d have and the excitement to be in holiday after months of working and attending night class. A goodbye kiss and hug, I took off from the car, and headed to the terminal waiting room, I could see the worry look on his face which made me feel worry as well but it didn’t stop me.

It took 1 hour and 45 minutes of flight from Jakarta to Bali. I set my watch one hour earlier, and walked alone across the corridor of the airport that I’ve never even look up in google. I had a hard time gotten out the luggage cart and it started: the thought I probably wont be okay to be alone in this strange city, I couldn’t even use the luggage cart in an airport other than Jakarta! Dang!

But thank to my overthink-self 2 days earlier before I took off to Bali, I decided to use the airport pick-up service from the hotel, quite pricey, but I needed to feel safe especially on my first day in strange city. Arriving in the hotel in 11.00 pm, the hotel driver helped me bringing my belonging to my room and showed me the room. The hotel was located in quiet area, my room was in third floor, and the room is surprisingly big with a lot of old furniture. I don’t believe in ghost, but in that time, I might change my mind a bit. LOL.

First lesson : your believe of not believing in ghosts, probably wont always lasts.

The first night is hard for me, I slept with TV and lamp turned on, I don’t dare to face the other side of the bed,  and I kept thinking to move to other hotel with smaller room or better yet, rent a room in hostel where I can have a friend in my room. But somehow, I managed to pass out and skip the time to 6 am.

It was a rainy on my second day, I changed my plan from renting motor-cycle to rent a car instead. As it turned out, finding a last minute car rent was not easy in a city where people went there for holiday everyday. In the time like this, I knew what would I do about the canceled holiday if I was in my hometown, I’d be in my room watching netflix all day. But I didn’t pay a flight ticket only for staying in a hotel room and watching TV, plus, my bf says I should stop texting him and enjoying my time away. Luckily, there’s one rent car provider available, but they didn’t have driver available at that time. I don’t own a driving license, I don’t usually drive, but I was quite sure the road in Bali is more friendly than Jakarta, so I took the car, and drove 50 km/h top while hoping life wasn’t too cruel for me.

I DID IT!

I drove to Gianyar – Sanur – Uluwatu – and back to my hotel in Denpasar without any scratch! (or a yell from another driver!)

Second lesson : Don’t cancel a plan, and also 50 km/h is all you need.

After that day, I was no longer sleeping with the lamp or TV turned on. I slept on the other side of my bed as well.

Back in Jakarta, after 5 days being alone in a strange city, visiting places that not usually visited by Indonesian, the excitement to tell the stories was lingered me. I wanted to write my first experience of solo traveling on my blog immediately, and got ready to feel the intense desire to go on another solo journey. But before it happened, I began to work full-time again. Surprisingly quickly, I fell back to the rhythms of city life, it even took more than month to finally finish writing my experience on my blog. I don’t feel a lot of change about myself as reported by these girls. Inspirational traveling alone memoir often paint a vivid picture of the ‘transformative’. But here’s those blogs too often leave out: Unless you’re diligent about creating a new life for yourself, when you get home, you transform back. I transform back.

That’s the last lesson I learned.

Pertama Kali dan Sendiri ke Bali

Kerja di sekolah tentu punya satu nilai lebih yang mungkin akan sulit ditemukan dibandingkan kalau kerja di kantor: Libur panjang. Termasuk di tempat gue bekerja sekarang, gue mendapatkan jatah libur lebaran selama *drum roll* 2 minggu. Dikarenakan waktu libur yang sangat banyak, dan Jakarta yang makin macet dan mahal aja kalau kemana-mana, gue pun memutuskan pergi ke Bali. Gue pergi dari tanggal 26 Juni sampai 29 Juni 2016. Gue ke Bali untuk pertama kalinya, dan sendiri-sendirinya. Nah di postingan kali ini, gue akan membahas pengalaman gue ke Bali dan terutama berjalan-jalan sendiri.

Disadari akan kebutaan gue mengenai destinasi wisata gue dan kesendirian gue di sana, gue tentu ga melakukan the-so-called-traveling-importance menurut Rangga: bedanya wisata sama traveling, kalau wisata semuanya sudah disiapkan dengan jadwal terencana, kalau traveling kita lebih suka akan kejutan kejutan dalam perjalanan. No, I didn’t not-planning my holiday, karena gue mau kembali ke Jakarta lagi, dan gue rasa ga nyiapin perjalanan malah akan beresiko malah jadi over-budget. Jadi, semua kebutuhan yang esensial selama gue di Bali, seperti penginapan, dan destinasi utama gue sudah gue siapkan sejak di Jakarta.

Penginapan

Dikarenakan perjalanan ini dilakukan sendirian, tadinya gue berencana menginap di Kayun Hostel, di daerah Kuta. Dengan setting hostel berbentuk dorm-room dan tersedia kamar khusus wanita, dan juga tersedia loker di setiap biliknya, gue sudah hampir book kamar di sini. Sampai gue pikir-pikir lagi, pasti penyuka setelan penginapan seperti ini adalah bule, lalu lokasi yang berada di tengah-tengah kuta yang hingar bingar, ditambah gue yang introvert dan berantakan, kayaknya nginep di hostel bukan ide yang terlalu tepat. Akhirnya gue pun mencari alternatif penginapan lain. Setelah berselancar di portal-portal pemesanan tiket, gue mendapat deal yang seru banget dari Tiket.com di Kiki Residence. Lokasi di sekitar Denpasar tapi sudah dekat sama Kuta (kuirang dari 1 km), kalau mau berjalan sedikit, kita bisa menemukan McDonald dan HokBen. Lokasinya cukup sepi, dan pas banget menurut gue. Fasilitas dan kondisi hotel yang tersedia persis seperti yang tertera di website-nya, gue cukup puas sih. Karena harga yang gue dapatkan murah banget-banget-banget, untuk 3 malam gue cuma perlu membayar sebesar Rp 355.000. Dengan kata lain, ga sampai Rp 120.000 per malamnya, itu murah buanget jika dibandingkan dengan fasilitas yang ada: Kamar sendiri dengan spring bed, AC, TV flat dengan channel internasional, complimentary water setiap hari, kolam renang, kamar mandinya ada air panas dan dingin, dan room service kalau mau. Karena di hostel pun, rate-nya mulai dari Rp 150.000 – 175.000 per malamnya.

Transportasi

Untuk yang satu ini, memang mau ga mau kita harus sewa motor/mobil sih, karena Bali ga punya banyak moda transportasi umum (gue rasa udah banyak orang yang tau soal ini. I just feel to need writing this). Tadinya, gue mau sewa motor selama di Bali, tapi saat gue di sana, daerah hotel gue hujan setiap pagi, dan destinasi wisata gue jauh-jauh (pas di Jakarta nge-cek map mikirnya, ah ini mah deket). Dikarenakan sewa mobil yang tidak direncanakan sebelumnya, gue jadi agak mendadak sewa mobil pakai bantuan dari internet. Kalau dirangkum dari beberapa vendor, ratenya itu:

Lepas Kunci (persyaratan biasanya KTP dan SIM) : Rp 160.000 – Rp 200.000 per harinya (dengan rate segitu biasanya mobil yang didapat adalah karimun atau agya, atau kalau beruntung ya Avanza/Xenia)

Dengan Supir (mobil biasanya Avanza/Xenia) : Rp 400.000 – Rp 500.000 per 10 jam sudah termasuk bensin dan supir (tapi bensin terbatas hanya Rp 100.000), untuk mobil seperti Inova rate yang didapat berkisar Rp 550.000

Untuk hari pertama karena destinasi wisata yang jauh-jauh, tapi cuma 2 destinasi, gue pun memilih sewa mobil lepas kunci, mobil yang gue dapat adalah karimun. Gue ga nunjukin SIM karena gue ga punya SIM, gue cuma ngomong “SIM saya ketinggalan tapi saya sudah biasa nyetir di Jakarta”. Crossed finger. 

Oiya, di Bali on-demand-transportation kayak Uber dan Go-Jek ternyata ada lho. Jadi kalau memang destinasi berdekatan seperti pantai ke pantai, atau kulineran, atau untuk antar ke bandara, menurut gue sih mendingan pakai Uber karena murah banget. Atau kalau mau ke satu pantai/destinasi wisata lain dan berlama-lama di sana, mendingan Go-Jek.

Destinasi Wisata

27 Juni 2016:

Bali Safari and Marine Park

Terletak di Gianyar, Bali, atau sekitar 42 km dari pusat area wisata Bali. Untuk masuk ke sini, tiket bisa dibeli langsung ataupun online, kalau gue saranin sih beli online aja karena harganya lebih murah dan antriannya jauh lebih singkat dengan tiket online. Gue beli tiket online-nya di BaliPedia.

bali-safari.jpg

Bus Untuk Berkeliling (dalamnya ber-AC)

Di website BaliSafariandMarinePark.com pun tersedia fasilitas booking online, tapi paket yang tertera di sana adalah paket super mahal, kalau sekedar menikmati core dari Bali Safari and Marine Park ini ga semahal itu kok. Paket yang tersedia di antaranya :

Safari Eksplorer, Rp 150.000, termasuk :

  • 1 x Safary Journey Trip
  • 1 x Fresh Water Aquarium
  • Animal Show ( 11.00 WITA)
  • Harimau Show (11.30 WITA)
  • Elephant Show (12.00 WITA dan 16.30 WITA)

Safari Legend, Rp 275.000, termasuk :

  • 1 x Safary Journey Trip
  • 1 x Fresh Water Aquarium
  • Animal Show ( 11.00 WITA)
  • Harimau Show (11.30 WITA)
  • Elephant Show (12.00 WITA dan 16.30 WITA)
  • Bali Agung Theater, silver seat (14.30 – 15.30 WITA, Selasa – Minggu)
  • Water Park
  • 1 x Fun Zone Ride

Night Safari, Rp 450.000, termasuk :

  • 1 x night safari journey
  • welcome drink
  • Dinner at Nkuchiro

*harga berlaku sampai Maret 2017

Gue ambil paket Safari Eksplorer padahal tadinya mau ambil yang Safari Legend, tapi dikarenakan ga ada pertunjukkan Bali Agung Theater pada waktu itu (hari Senin), jadi sayang banget kalau ambil paket Safari Legend, karena setau gue yang bikin mahal pertunjukkan itu. Paket safari eksplorer yang gue ambil adalah Rp 135.000 via online booking.

DSC00026.JPG

Tiger Show

This slideshow requires JavaScript.

Gajah pinter lagi main teater

Setting taman Safari di Bali ini beda banget sama yang di Puncak ataupun di Prigen, karena kita ga bawa mobil sendiri ke dalam, melainkan menggunakan bus safari yang disediakan. Selain itu pertunjukkan binatang lebih bersifat edukatif ketimbang atraktif seperti yang di Puncak. Mungkin karena pengunjung yang kebanyakan wisatawan internasional, sehingga tuntutannya lebih untuk mengisi kekepoan mereka ketimbang menghibur mereka. Karena gue yakin kebun binatang di negara asal mereka pasti lebih atraktif sih.

Perjalanan gue tempuh sekitar 1,5 jam tanpa macet, dan karena gue nyetirnya pelan-pelan karena sebenarnya gue ga biasa nyetir sendiri.

Bali Kecak Dance, Uluwatu

Dari Gianyar, gue mampir ke pantai Sanur, makan di Restoran Mak Beng dan duduk-duduk di atas pasir sejenak sambil menikmati pemandangan air biru dan cabe-cabean cari perhatian di depan bule, sambil menunggu jam gue menunjukkan pukul 15.30 WITA.

Jam menunjukkan pukul 15.30 WITA gue langusung beranjak ke mobil dan langsung menuliskan destinasi ‘Uluwatu Temple’ di google map. Perjalanan dari pantai Sanur ke Pura Uluwatu memakan waktu kurang lebih sekitar 1 jam. Gue sengaja datang lebih awal biar ga kesulitan nyari parkir yang gampang ngeluarin mobil. Untuk tiket menonton pertunjukkan tari Kecak di Uluwatu ini lagi-lagi gue beli via online, karena lebih murah dan sekali lagi, ga pakai antri di sananya. Harga normal pertunjukkan tari kecak Rp 100.000, via online gue dapat potongan harga Rp 15.000, termasuk lumayan karena gue cuma perlu nambahin Rp 5.000 lagi untuk tiket masuk ke area pura yang harganya Rp 20.000 (wisatawan domestik).

DSC00181.JPG

Pemandangan di area pura uluwatu ini memang luar biasa cantiknya sih walaupun ramai riuh sama wisawatan, ada di sana tetap terasa menyenangkan. Tapi terutama yang jalan-jalan sendiri kayak gue harus ekstra hati-hati karena di area pura Uluwatu ada banyak monyet usil yang suka ngambilin barang-barang kita.

Area pertunjukkan tari kecak di UIuwatu langsung menghadap signature-tebing dan sunset, one of the most beautiful scenery I ever witness.

28 Juni 2016

Bali Underwater Scooter

Ini merupakan salah satu destinasi wisata di Bali yang jarang dikunjungi oleh wisatawan lokal, terbukti waktu gue ke sini, gue satu-satunya wisatawan lokal. Underwater scooter ini merupakan full-day-trip yang dilakukan di salah satu di antara 3 kepulauan Nusa, Nusa Ceningan. Di-bundle dengan harga Rp 750.000 (wisatawan lokal) dan Rp 1.330.000 (wisatawan internasional) paket yang ada termasuk :

  • Penjemputan dari hotel ke pelabuhan Serangan
  • Kapal dari pelabuhan Serangan ke Pulau Ceningan (kapal Jet kapasitas 40 orang, dalamnya AC, atau kita bisa juga duduk di roft-top)
  • Snorkeling
  • Semi-diving
  • underwater scooter
  • Makan siang prasmanan (yang ga enak banget)
  • Free-flow beer dan soda
  • Main canoe
  • Banana Boat
  • Pengantaran kembali ke hotel
Searah Jarum Jam : Semi-diving ; Situs bawah laut ; kegiatan underwater scooter

Kegiatan air dilakukan ga di pinggir pantai, kita dibawa ke tengah dengan shuttle-boat gitu, tapi karena kegiatan air ini kebanyakan dilakukan sama wisatawan apa saja, tanpa persyaratan harus bisa berenang, kegiatan air pun selalu dilakukan dengan adanya akses pegangan terus, karena arus nya cukup kencang di dalam lautnya. Makanya untuk pro-diver, mungkin aktivitas ini kurang seru, tapi buat orang yang bahkan ga bisa berenang kayak gue, yaa cukup lah ngerasain pakai diving equipment dan melihat ikan sebesar-besar kepala orang dewasa di kedalaman 5 meter. Oiya, selain ikan-ikan sebesar kepala orang dewasa yang bisa kita lihat, di dasar laut juga terdapat situs candi dan pahatan patung yang menambah sensasi berada di kedalaman air.

29 Juni 2016

Big Tree Farm

Salah satu produsen coklat di daerah selatan Ubud. Terdiri dari 3 lantai, Big Tree Farm Ubud memiliki kerangka bangunan, atap, dinding, dan hampir semua bangunannya terbuat dari bambu. Mereka mengolah cocoa dan menghasilkan produk olahan cocoa, gula, dan vanila yang bersifat gluten free dan sesuai sama kriterianya vegan (like your lifestyle cant be more fulfiled).

img_7669.jpeg

Masuk pintu utama, langsung tercium aroma cocoa yang lumayan kuat, ditambah bangunan yang sepertinya dirancang eco-friendly jadi ga pakai air conditioner yang menjadikan area bawah gedung ini agak panas sebenarnya. Waktu gue ke sini sih tour pabrik lagi ga ada, dan gue satu-satunya tamu (karena sedang ada hari libur pagar besi di Bali, dan sebenarnya mereka sedang tutup. Tapi gue berhasil membujuk manajer marketingnya, jadilah ngobrol, keliling pabrik sedikit, dan nyobain beberapa produk mereka).

Saat ini, proses produksi belum berjalan normal karena suplai cocoa mereka dari Peru belum tersedia sampai Agustus, jadi tour pabrik cuma bekisar pengolahan gula, butter, dan grinding aja. Jadi gue ga bisa cerita banyak mengalami pengalaman gue melihat proses pengolahan coklat di sini.

Kalau kita berkunjung, bisa ikut tour keliling pabrik untuk melihat proses pengolahan cocoa di sana cukup dengan membayar Rp 40.000 (reservasi) atau Rp 60.000 (Drop in).

Lantai 2 merupakan kantor dari big tree farm, dan ga ada yang bisa diceritain di sini.

Lantai 3, merupakan tempat untuk retail coklatnya. Gue kirain akan seperti mini-market gitu retailnya, ternyata tempatnya berbentuk seperti aula lapang, 2 gerobak yang digunakan untuk meletakkan produk olahan, dan beberapa sofa yang bisa dipakai kalau pengunjung mau ngobrol dengan pihak Big Tree Farm.

Big-Tree_cover.png

Gerobak Untuk Jualan Coklat

Waktu di sana, gue bener-bener banyak ngobrol soal coklat sama pihak big tree farm, ya omongan rakyat aja sih, dan gue dikasih coba produk mereka satu persatu, mulai dari choco nibs, minuman coklat (bukan minuman coklat udah jadi, tapi dia campur sendiri pakai coconut sugar, garam, apa lagi gue ga inget) yang rasanya bisa dibilang… hipster.

Kata PR person-nya, Big Tree Farm emang ga terlalu fokus ke produksi yang end-user nya konsumen perseorangan gitu, mereka lebih banyak ngelayanin order coklat ari restoran-restoran kenamaan di Bali. Makanya ga heran kalau toko retail-nya pun cuma terdiri dari 2 gerobak, however, they still manage to give me delighting experience in buying chocolate that only costs me Rp  35.000 each.

Green School, Ubud, Bali

Lokasinya ga jauh dari Big Tree Farm, mungkin kira-kira hanya sekitar 2-3 km ya.

Jadi Green School ini adalah sekolah internasional untuk jenjang pre-kindergarten sampai SMA, and by international, I mean really internarional, karena hampir ga ada muridnya yang orang Indonesia, dan juga anak bule datang ke sini cuma buat sekolah (beda sama di Jakarta, yang orang tuanya ‘sambil’ kerja di perusahaan multinasional di Jakarta). Waktu gue ke sini, gue ga bisa masuk, karena jam tour-nya sudah selesai. Damn it.

Ditemukan oleh John Hardy yang berkebangsaan Kanada yang sudah ada di Bali sejak tahun 1975, just a little fun fact I got, pak John dan pemilik Big Tree Farm ini temenan katanya, dan bangunan Big Tree Farm inspired by Green School. #PertemananTajir

This slideshow requires JavaScript.

Gambar diambil dari Google

Anyway untuk tour-nya sendiri dibanderol dengan harga  Rp 100.000 bisa dilakukan pada:

Weekdays : 9.00 – 10.00

Weekend : 10.30 – 11.30

Oiya, untuk hari terakhir ini, gue berkeliling Denpasar-Ubud-Denpasar-Pulau Serangan-Bandara Internasional Ngurah Rai menggunakan Uber. Waktu itu bill-nya sekitar Rp 290.000

Biaya

Rangkuman biaya-biaya yang gue keluarkan adalah sebagai berikut:

  • Pesawat PP : Rp 1.170.000
  • Penginapan : Rp 355.000
  • Sewa Mobil : Rp 160.000
  • Bensin : Rp 80.000
  • Bali Safari : Rp 135.000
  • Kecak Dance : Rp 85.000
  • Uluwatu Temple : Rp 20.000
  • Retribusi Mobil di Pantai Sanur : Rp 5.000
  • Tol Mandara – Tol di atas laut (2 kali) : Rp. 20.000 (murah banget dibanding tol dalam kota)
  • Underwater Scooter : Rp 750.000
  • Beli minuman coklat di Big Tree Farm : Rp 70.000 (dua bungkus)
  • Uber : Rp 290.000

Total adalah Rp 3.140.000, tapi ditambah makan, petty cash, dan gue ga punya self-control yang baik, budget yang keluarkan kayaknya kurang lebih jadi Rp 4.500.000

Begitulah kurang lebih gambaran perjalanan gue ke Bali, agak ga efisien sebenarnya baik dari segi waktu, jarak dan biaya. Misalnya hari pertama, dari Gianyar ke Uluwatu kayak dari ujung ke ujung. Gue juga ga banyak ke pantai, karena males kulit menghitam.

Tips untuk jalan-jalan sendirian untuk cewe:

  • Gausah ikutin kata Rangga di AADC
  • Santai aja. Karena orang Bali lebih sering liat Bule ketimbang lokal, gue sih ngerasa mereka ramah banget sama gue pas di sana (Bali yang ke pinggir ya, bukan daerah pusat wisata kayak Kuta gitu), tapi ya harus tetep hati-hati juga.
  • Pegang duit yang banyak. Kalau orang bilang duit bukan segala-galanya, duh udah deh, kalau ada duit semua gampang. Artinya di sini adalah, kalau memang mau jalan-jalan sendirian apalagi belum pengalaman dan kita cewe, karena kondisi darurat, apalagi kalau di tempat asing, jadi ga masalah asalkan kita punya uang.
  • Waktu gue jalan-jalan sendiri, gue ngerasa orang jadi lebih mau ngajak gue ngobrol, sekeluarga dari Australia (Darwin), pasangan suami istri 60-an tahun dari Singapur, dan keluarga dengan anak umur 4 tahun dari Meruya, Jakarta Barat. Jadi sebenarnya jalan-jalan sendirian itu bisa ngelatih kita juga buat ngejalin kemampuan.

Gitu aja deh. Gue masih mau ke Bali lagi.